Edukasi

7 Pahlawan Revolusi korban Gerakan 30 September

0
7 Pahlawan Revolusi korban Gerakan 30 September

Pengkhianatan yang melibatkan terbunuhnya para tokoh Pahlawan Revolusi Indonesia ini adalah peristiwa terkelam dalam sejarah Indonesia pada 30 September 1965. Berikut ini kami akan memberikan daftar 7 Pahlawan Revolusi korban Gerakan 30 September dalam sejarah Indonesia.

Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau disebut juga Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah peristiwa yang terjadi di malam pada tanggal 30 September sampai awal bulan 1 Oktober 1965 yang melibatkan para Perwira Tinggi Indonesia terbunuh pada suatu usaha pergerakan PKI untuk melakukan kudeta.

Seperti yang kita ketahui, Partai Komunis merupakan partai terbesar di seluruh dunia. Hampir disetiap seluruh negara memiliki Partai Komunis, salah satunya berada di Indonesia yang disebut Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan mempunyai lebih dari 20 juta pendukung termasuk para anggotanya.

Pembrontakan G30S/PKI tersebut dilakukan pada malam hari pada 30 September 1965 oleh Tjakrabirawa yang dipimpin Letkol Untung untuk melakukan penculikan 6 jendral dan 1 kapten dan inilah daftar nama-nama para Pahlawan yang telah menjadi korban pembrontakan tersebut.

1. Abdul Haris Nasution

post image
Ilustrasi : Jendral TNI Angkatan Darat Abdul Haris Nasution

Jenderal Besar TNI (Purnawirawan) Abdul Haris Nasution atau biasa dikenal Pak Nas (3 Desember 1918 – 6 September 2000), ia adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Ke-2 dan juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia Ke-12. AH Nasution merupakan seseorang dengan jejak perjuangan yang panjang terhadap Indonesia dan salah satu orang yang diberikan kehormatan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

AH Nasution adalah konseptor dari Dwifungsi ABRI yang disampaikan pada tahun 1958 yang kemudian dioperasikan selama pemerintahan Soeharto. Konsep dasar yang ditawarkan agar ABRI tidak harus berada di bawah kendali sipil, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mendominasi sehingga menjadi sebuah kediktatoran militer.

Pada tahun 1940, Jerman Nazi menduduki Belanda dan pemerintah kolonial Belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia. Pada saat itu Nasution ikut bergabung, karena baginya ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pelatihan militer.

Dengan diikuti oleh beberapa orang Indonesia lainnya, ia dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk pelatihan. Pada bulan September 1940, ia dipromosikan menjadi Kopral, lalu setelah 3 bulan menjalani pelatihan militer  ia mendapati kenaikan pangkat menjadi Sersan.

Kemudian AH Nasution diangkat sebagai seorang Perwira di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) atau dalam bahasa Indonesia Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Pada tahun 1942, AH Nasution yang sedang berada di Surabaya untuk mempertahankan pelabuhan, Jepang berhasil menduduki Indonesia.

AH Nasution kemudian menemukan jalan kembali ke Bandung dan bersembunyi untuk menghindari tentara Jepang yang akan menangkap dirinya. Pada 3 Oktober 1943, ia mengikuti satuan militer PETA (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air) yang dibentuk oleh Jepang untuk membawa pesan, namun ia tidak benar-benar menjadi anggota.

Setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, AH Nasution bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada bulan Mei 1946, ia diangkat menjadi Panglima Regional Divisi Siliwangi, yang memelihara keamanan Jawa Barat. Dalam posisi ini, Nasution mengembangkan teori perang teritorial yang akan menjadi doktrin pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada masa depan.

Pada 1948 Nasution diangkat sebagai Wakil Panglima TKR. Meskipun hanya berpangkat Kolonel, penunjukan ini membuat Nasution menjadi orang paling kuat kedua di TKR, setelah Jendral Soedirman. Pada bulan April, ia membantu Soedirman mereorganisasi struktur pasukan. Pada bulan Juni, pada sebuah pertemuan, saran Nasution bahwa TKR harus melakukan perang gerilya melawan Belanda disetujui oleh Jendral Soedirman.

Pada tahun 1950, Nasution mengambil posisinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, dengan T.B. Simatupang menggantikan posisi Soedirman yang telah meninggal dunia sebagai Kepala Staf Angkatan Perang. Pada tahun 1952, Nasution dan Simatupang memutuskan untuk membuat kebijakan restrukturisasi dan reorganisasi untuk ABRI. Dalam kebijakan ini, Nasution dan Simatupang berharap untuk menciptakan tentara yang lebih kecil tetapi yang lebih modern dan profesional.

Pada 1 Oktober 1965 pada pukul 04.00 WIB, pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin Letnan Doel Arief mendatangi kediaman AH Nasution yang membawa pasukan terdiri dari 4 truk dan 2 mobil militer. Sersan Ishaq yang sedang berjaga di pos depan rumah AH Nasution beserta beberapa tentara penjaga melihat kendaraan yang datang.

Dalam sebuah pondok yang terpisah, 2 ajudan AH Nasution yaitu sedang tertidur lelap yaitu Lettu CZI Pierre Andreas Tendean dan Komisaris Polisi Hamdan Mansjur. Sebelum alarm menyala, pasukan Letnan Doel Arief telah melompat pagar dan menguasai para penjaga yang mengantuk di pos jaga dan ruang jaga. Lainnya masuk dari seluruh sisi rumah dan menutupinya dari belakang, ada sekitar 15 tentara masuk ke rumah.

AH Nasution dan istrinya terganggu oleh nyamuk lalu terbangun, mereka tidak mendengar para penjaga yang telah dikuasai, namun istri AH Nasution mendengar pintu dibuka paksa. Istri AH Nasution langsung memeriksa dan membuka pintu kamar tidur, ia melihat tentara Tjakrabirawa dengan senjata siap menembak, lalu ia menutup pintu dan berteriak memberitahu suaminya.

AH Nasution yang ingin melihatnya, lalu ketika ia membuka pintu, tentara menembak ke arahnya. Setelah tembakan dilakukan, ia melemparkan dirinya ke lantai, lalu istrinya membanting dan langsung mengunci pintu kamar. Pasukan yang lainnya mulai menghancurkan pintu bawah dan melepaskan tembakan-tembakan ke kamar tidur.

Istri AH Nasution berusaha keras mendorong suaminya keluar melalui pintu lain dan menyusuri koridor ke pintu samping rumah, lalu AH Nasution berlari ke halaman rumahnya menuju dinding yang memisahkan halamannya dengan Kedutaan Besar Irak.

Kemudian tentara Tjakrabirawa melihat AH Nasution sedang memanjat dan langsung menembakinya, namun tembakan itu meleset dan mereka tak mengejarnya. AH Nasution mengalami patah tulang pada pergelangan kaki saat ia jatuh ke halaman Kedutaan Irak untuk bersembunyi.

Seluruh penghuni rumah terbangun dan ketakutan oleh penembakan itu termasuk Ibu dan adik AH Nasution, Mardiah yang tinggal di rumah itu dan langsung berlari ke kamar tidur AH Nasution. Mardiah membawa putri AH Nasution yang berusia 5 tahun, Irma dari tempat tidurnya, lalu memeluknya dengan erat dan mencoba lari ke tempat aman.

Saat Mardiah berlari, seorang kopral dari penjaga istana melepaskan tembakan ke arah Mardiah yang berlari melalui pintu. Irma telah terkena tembakan itu dan menerima 3 peluru di punggungnya. Irma meninggal setelah 5 hari dari penembakan itu di rumah sakit.

Putri sulung AH Nasution, Janti yang berusia 13 tahun beserta perawatnya Alfiah sudah lari ke rumah pondok ajudan AH Nasution dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Setelah Tendean mengambil senjatanya dan berlari dari rumah, namun ia tertangkap di bawah todongan senjata.

Setelah mendorong suaminya keluar rumah, istri AH Nasution lari ke dalam dan membawa putrinya yang terluka. Saat ia ingin menelepon dokter, pasukan TJakrabirawa menuntutnya agar memberitahu mereka di mana keberadaan suaminya.

Saat pasukan Tjakrabirawa menanyakan keberadaan AH Nasution kepada istrinya, ia melakukan percakapan singkat sambil marah-marah dengan Sersan Doel Arief dan mengatakan kepadanya bahwa AH Nasution sedang pergi keluar kota selama beberapa hari ini.

Pasukan Tjakrabirawa pun pergi dari rumah AH Nasution dan membawa P.A Tendean pergi dengan mereka, lalu istri AH Nasution membawa putrinya yang terluka ke rumah sakit Pusat Angkatan Darat. Kedatangan pasukan Tjakrabirawa juga membunuh seorang penjaga di rumah Wakil Perdana Menteri Indonesia.

Johannes Leimena seorang penjaga tersebut yang merupakan tetangga AH Nasution mendengar keributan dan berjalan ke rumah AH Nasution. Dalam situasi yang menegangkan, salah satu pasukan Tjakrabirawa langsung melepaskan tembakan yang menewaskannya seketika. Pembunuhan penjaga tersebut tidaklah direncanakan, lalu AH Nasution pun berhasil meloloskan diri setelah ia bersembunyi di halaman Kedutaan Besar sampai pukul 06.00 WIB.

AH Nasution adalah orang yang menjadi sasaran utama Gerakan 30 September PKI, namun dirinya berhasil meloloskan diri. Karena pasukan Tjakrabirawa tak berhasil menculik AH Nasution, sebagai gantinya mereka membawa ajudannya yaitu Lettu Pierre Tendean dan membawanya ke Lubang Buaya berkumpulnya juga Perwira Tinggi lainnya di sana.

 

Baca juga:  Sistem Pemerintahan Indonesia Era Orde Lama

Kapten TNI-AD (Anumerta) Pierre Andries Tendean

2. Ahmad Yani

post image
Ilustrasi : Jendral TNI-AD (Anumerta) Ahmad Yani

Letnan Jendral TNI-AD atau Jendral TNI-AD (Anumerta) Ahmad Yani (19 Juni 1922 – 1 Oktober 1965), ia adalah komandan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) dan mendapati julukan Juruselamat Magelang setelah ia berhasil mempertahakan Magelang ketika Belanda ingin mengambil alih kota Magelang.

Pada Desember 1955, Ahmad Yani berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar di Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenworth, Kansas dan kembali ke Indonesia pada tahun 1956. Ahmad Yani dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta dan menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk Organisasi dan Kepegawaian.

Pada Agustus 1958, ia memerintahkan Operasi 17 Agustus terhadap Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia pemberontak di Sumatra Barat. Pasukan yang dikomandoi oleh Ahmad Yani telah berhasil merebut kembali Padang dan Bukittinggi dari pembrontakah terhadap pemerintah pusat.

Keberhasilan itu membuat ia dipromosikan menjadi wakil kepala Angkatan Darat ke-2 staf pada 1 September 1962, lalu pada 13 November 1963 Ahmad Yani diangkat menjadi Kepala Angkatan Darat stafnya (otomatis menjadi anggota kabinet), menggantikan Jenderal Nasution.

Ahmad Yani yang sangat anti-komunis menjadi sangat waspada terhadap PKI, terutama setelah partai ini menyatakan dukungannya terhadap pembentukan kekuatan kelima (selain keempat angkatan bersenjata dan polisi) dan Soekarno mencoba untuk memaksakan Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme) untuk masuk ke dalam militer.

Pada 1 Oktober 1965, 1 setengah kompi pasukan Tjakrabirawa dibawa dengan 2 truk dan 2 bus untuk mendatangi rumah Ahmad Yani yang dipimpin oleh Letnan I Mukidjan. Setelah di rumah Ahmad Yani, pasukan Tjakrabirawa dibagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama menjaga bagian belakang, lalu kelompok kedua menjaga bagian depan rumah dan kelompok ketiga yang dipimpin langsung oleh Letnan I Mukidjan serta Sersan II Raswad masuk ke halaman utama dan masuk ke dalam rumah Letjen Ahmad Yani.

Pasukan Tjarabirawa yang berjaga dibagian depan dan belakang itu mengatakan kepada para pengawal rumah Ahmad Yani bahwa ada pesan penting dari Presiden, lalu saat para pengawal lengah, mereka langsung menyekapnya dan melucuti senjata para pengawal.

Ketika Ahmad Yani menyambut pasukan Tjakrabirawa, Raswad memberitahu bahwa ia dipanggil oleh Presiden karena alasan sangat dibutuhkan saat itu juga, lalu Ahmad Yani meminta izin untuk membersihkan dirinya dahulu dan berganti pakaian, namun permintaan tersebut ditolak.

Kemudian Ahmad Yani yang sangat geram terhadap sikap para prajurit tersebut langsung memukul salah satu prajurit Tjakrabirawa dan langsung menutup pintu kacanya dengan maksud untuk kembali ke kamarnya. Pada saat itulah, Raswad memerintahkan Sersan II Gijadi untuk menembak Ahmad Yani dari balik pintu kaca.

Tembakan itu telah menembus pintu kaca Ahmad Yani dengan 7 peluru senapan laras panjang yang membuat Ahmad Yani terbunuh, kemudian para prajurit itu menyeret jenazah Ahmad Yani dan membawanya dengan posisi kepala serta posisi badannya berada di lantai.

3. Raden Suprapto

post image
Ilustrasi : Letnan Jendral TNI-AD (Anumerta) Raden Suprapto

Mayor Jendral TNI-AD atau Letnan Jenderal TNI-AD (Anumerta) Raden Suprapto (20 Juni 1920 – 1 Oktober 1965), ia adalah Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang AdministrasiSekolah Polisi Militer. Pendidikan formal setelah ia tamat sekolah di MULO (salah satu Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda), lalu melanjutan pendidikannya di SMA 3 B Yogyakarta (kini dikenal SMA Negeri 3 Yogyakarta).

Pada awal kemerdekaan, ia merupakan salah satu orang  yang ikut turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Setelah ia berhasil, ia kemudian masuk menjadi anggota Angkatan Perang Pertama Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto.

Selama di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia salah satu orang yang ikut turut serta dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Dia juga salah satu orang yang pernah menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman.

Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia dipindahtugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang. Dari Semarang kemudian ia ditarik ke Jakarta sebagai Staf Angkatan Darat, lalu dia ditugaskan ke Kementerian Pertahanan.

Pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 04.00 WIB, 19  orang pasukan Tjakrabirawa mendatangi rumah Raden Suprapto dengan menggunakan truk yang dipimpin oleh Serka Sulaiman dan Serda Sukiman yang sedang tidak ada penjagaan di rumah Raden Suprapto pada saat itu.

Setelah pasukan Tjakrawirawa sampai di rumah Raden Suprapto, dari 19 orang pasukan dibagi menjadi 2 bagian kecil. Pasukan yang dipimpin Serka Sulaiman memasuki pintu utama, lalu Raden Suprapto menyambut kedatangan mereka dan Kopral II Suparman mengatakan bahwa Presiden ingin segera menemuinya.

Kemudian Raden Suprapto meminta izin untuk berganti pakaian, namun para prajurit Tjakrabirawa itu menolaknya dan langsung dibawa paksa untuk masuk ke dalam truk. Sebelum mereka pergi, para prajurit Tjakrabirawa sempat merusak telepon rumah Raden Soeprapto dengan maksud memutuskan jalur komunikasinya.

4. Mas Tirtodarmo Haryono

post image
Ilustrasi : Letnan Jendral TNI Angkatan Darat (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono

Mayor Jendral TNI-AD atau Letnan Jenderal TNI-AD (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono (20 Januari 1924 – 1 Oktober 1965), ia adalah Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan. Pendidikan formal setelah ia tamat sekolah di HBS (Hoogere Burgerschool : SMP dan SMA). Dia juga sempat pernah sekolah di Ika Dai Gekko (Perguruan Tinggi Kedokteran pada masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tak sampai tamat.

Ketika kemerdekaan RI diproklamasikakan oleh Presiden Soekarno, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu pada awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.

Saat terjadinya perang untuk mempertahankan kemerdekaan antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia dipindahtugaskan di Kantor Penghubung, kemudian menjabat sebagai Sekretaris Delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda.

M.T Haryono pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan diwaktu yang bersamaan, ia juga menjabat sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Pada saat diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 04.30 WIB, pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin oleh Sersan Boengkoes dengan 18 orang pasukannya mendatangi kediaman M.T Haryono, lalu pasukan Tjakrabirawa mengetuk pintu rumah dan M.T Haryono memiliki firasat buruk akan kedatangan mereka, ia menyuruh istri dan anak-anaknya untuk pergi ke halaman belakang rumah.

Setelah pasukan Tjakrabirawa mengetuk pintu rumah, M.T Haryono mengatakan dari kamarnya “kalau mau bertemu besok saja di kantor jam 08.00..”, kemudian pada saat itu juga Sersan Boengkoes langsung mendobrak pintu rumahnya dan melihat seisi ruanganya telah gelap gulita.

Seketika ada kilasan bayangan yang bergerak, Sersan Boengkoes yang memegang senapan laras panjang langsung menembak kilasan bayangan tersebut. Tak disangka ternyata kilasan bayangan tersebut adalah M.T Haryono yang mencoba menghindari pasukan Tjakrabirawa.

Peluru yang langsung melesat tepat di tubuh M.T Haryono itu seketika menewaskannya, kemudian jenazahnya diseret dengan posisi kepala dan tubuh berada di lantai oleh para pasukan Tjakrabirawa serta dilempar masuk ke dalam truk untuk dibawa ke Lubang Buaya.

5. Siswondo Parman

post image
Ilustrasi : Letnan Jendral TNI Angkatan Darat (Anumerta) Siswondo Parman

Mayor Letnan Jendral atau Letnan Jenderal TNI-AD (Anumerta) Siswondo Parman (4 Agustus 1918 – 1 Oktober 1965), adalah Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angakatan Darat. Dia lulus dari sekolah tinggi di kota Belanda pada tahun 1940 dan masuk sekolah kedokteran, namun ia harus meninggalkan sekolahnya ketika Jepang menyerang.

Kemudian bekerja ia untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Namun, ia ditangkap karena keraguan atas kesetiaannya. Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Jepang untuk pelatihan intelijen dan bekerja lagi untuk Kempeitai pada kembali sampai akhir perang serta bekerja sebagai penerjemah di Yogyakarta.

Baca juga:  Bali Adalah Tempat Untuk Menghabiskan Waktu

Setelah kemerdekaan Indonesia, Parman bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu pada akhir Desember 1945, ia diangkat sebagai Kepala Staf Polisi Militer di Yogyakarta. Setelah 4 tahun ia menjadi kepala staf untuk gubernur militer Jabodetabek dan dipromosikan menjadi mayor.

Pada saat berpangkat mayor, ia berhasil menggagalkan rencana Hanya Raja Angkatan Bersenjata (Angkatan Perang Ratu Adil, APRA), kelompok militer pemberontak yang dipimpin oleh Raymond Westerling yang bertujuan untuk membunuh komandan menteri pertahanan dan angkatan bersenjata.

Pada tahun 1951, Siswondo Parman dikirim ke Sekolah Polisi Militer di Amerika Serikat untuk pelatihan lebih lanjut. Pada 11 November 1951, ia diangkat menjadi komandan Polisi Militer di Jakarta dan ia juga menduduki sejumlah posisi di Polisi Militer Nasional HQ serta Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai Atase Militer ke Kedutaan Indonesia di London.

Pada tanggal 28 Juni, setelah berpangkat Mayor Jenderal, ia diangkat menjadi asisten pertama yang tanggung jawab untuk intelijen Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani. Namun, pada saat terjadinya pembrontakan G30S/PKI, ia salah satu perwira tinggi yang menjadi target pembrontakan PKI.

Pada 1 Oktober 1965 pukul 04.00 WIB, pasukan Tjakrabirawa terdiri dari 20 orang prajurit yang dipimpin oleh Sersan Satar mendatangi kediaman Siswondo Parman. Kedatangan Tjakrabirawa membuat Siswondo Parman beserta istrinya terbangun dari tidurnya.

Siswindo Parman dan istrinya yang mengira telah terjadi perampokan di rumah tetangganya langsung menghampiri pasukan Tjakrabirawa dan bertanya “apa yang terjadi?”, lalu pasukan Tjakrabirawa menjawab “kami diperintahkan oleh Presiden untuk menjemput Mayjen.”

Kemudian Siswindo Parman masuk ke dalam rumahnya untuk berganti pakaian dengan didampingi oleh sebagian kelompok Tjakrabirawa, lalu istri Siswondo Parman yang curiga dan menanyakan apakah mereka memiliki surat otorisasinya, salah satu orang pasukan Tjakrabirawa menjawab bahwa memiliki surat sementara.

Saat Siswindo Parman berganti pakaian, ia berbisik kepada istrinya untuk segera menghubungi Letjen Ahmad Yani, tetapi bisikan itu terdengar oleh pasukan Tjakrabirawa yang mendampingi Siswindo Parman berganti pakaian langsung merampas telepon rumahnya dan bergegas membawa Siswindo Parman secara paksa ke dalam truk.

6. Donald Isaac Pandjaitan

post image
Ilustrasi : Mayor Jendral TNI Angkatan Darat (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan

Brigadir Jendral atau Mayor Jendral TNI-AD (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan (9 Juni 1925 – 1 Oktober 1965), ia adalah Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Dia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau sampai Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah menyatakan kemerdekaannya, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Saat ia pertama kali ia ditugaskan menjadi Komandan Batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948.

Seiring berjalannya waktu, ia diangkat menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera, lalu ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Kemudian D.I Pandjaitan diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan, lalu tak lama kemudian ia dipindahkan ke Palembang dan menjabat sebagai Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.

Pada tahun 1956, setelah ia mengikuti kursus Militer Atase (Milat), ia langsung ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer di Jerman, ia pun pulang ke Indonesia. Pada tahun 1962, D.I Pandjaitan ditunjuk sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).

Pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin oleh Sersan Mayor Soekardjo serta membawa sekitar 50 orang pasukan yang terdiri dari 2 truk mulai mendatangi kediaman D.I Pandjaitan, lalu para pasukan membuka pagar rumahnya secara paksa. Setelah para pasukan masuk ke dalam rumah, mereka pun langsung membunuh salah satu pembantu rumah D.I Pandjaitan.

Kemudian para pasukan Tjakrabirawa menuntut satu-satunya pembantu D.I Pandjaitan untuk memberi tahu keberadaan kamarnya, lalu mereka mengancam keluarganya dan D.I Pandjaitan yang kamarnya berada di lantai 2 serta ia yang sudah memakai seragam kebesarannya mencoba menuruni anak tangga untuk menyerahkan dirinya sambil berdoa dan pasrah kepada Yang Maha Esa.

Kerabat kerjanya yaitu Albert Naiborhu dan Victor Naiborhu yang tinggal tak jauh dari rumah D.I Pandjaitan mendengar suara keributan di rumah D.I Pandjaitan. Mereka yang mengira telah terjadi perampokan langsung bergegas mempersiapkan senjata apinya untuk melakukan perlawanan setelah mereka mengetahui D.I Pandjaitan ingin dibawa, namun keberadaan mereka diketahui pasukan Tjakrawabiara dan langsung melepaskan tembakannya dan menewaskan Albert Naiborhu.

D.I Pandjaitan yang sudah dibawa oleh pasukan Tjakrabirawa, namun saat di halaman rumahnya ia dipukuli dan langsung menembakinya tepat di kepalanya. Kemudian para pasukan membawa jenazah serta melemparnya masuk ke dalam truk dan pergi dari rumah D.I Pandjaitan.

7. Sutoyo Siswomiharjo

post image
Ilustrasi : Mayor Jendral TNI Angkatan Darat (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo

Brigadir Jendral atau Mayor Jenderal TNI-AD (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo (28 Agustus 1922 – 1 Oktober 1965), ia adalah Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat. Dia menyelesaikan sekolahnya sebelum Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942 dan selama masa pendudukan Jepang, ia belajar tentang penyelenggaraan pemerintahan di Jakarta. Kemudian pada tahun 1944, ia bekerja sebagai pegawai pemerintah di Purworejo, lalu memutuskan untuk mengundurkan diri.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sutoyo S bergabung ke dalam bagian Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer. Kemudian pada tahun 1954, ia diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Militer setelah terus-menerus memperoleh kenaikan pangkat.

Setelah 2 tahun ia menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Militer, ia diangkat menjadi Asisten Atase Militer Kedutaan Besar Indonesia di London. Pada tahun 1959 hingga 1960, ia menyelesaikan pelatihannya di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung, lalu ia diangkat sebagai Inspektur Kehakiman Angkatan Darat. Karena ia memiliki pengalaman di bidang hukum, pada tahun 1961 ia menjabat menjadi Inspektur Kehakiman/Jaksa Militer Utama.

Pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin langsung oleh Sersan Mayor Surono mendatangi tempat kediaman Brigjen Sutoyo Siswomihardjo. Sesampainya, pasukan Tjakrabirawa membentuk beberapa kelompok kecil. Kelompok utama mulai memasuki rumah Sutoyo S melalu garasi di samping rumahnya.

Pada saat itu mereka bertemu pembantu rumah Sutoyo S, mereka memaksa pembantunya untuk segera memberikan kunci rumah, lalu mereka mulai bertemu Sutoyo S setelah membuka pintu kamarnya. Pasukan Tjakrabirawa langsung menyampaikan panggilan palsu tersebut kepada Sutoyo S, tak lama ia ingin berganti pakaian, ia langsung disekap dan mengikat tangannya lalu membawanya masuk ke dalam truk.

Kesimpulan

Kejadian yang disebut sebagai Gerakan 30 September PKI atau G30S PKI ini merupakan sejarah terkelam dalam sejarah Indonesia setelah menyatakan kemerdekaannya. Maksud kudeta tersebut untuk menggulingkan pergerakan Militer Indonesia dengan menyiksa serta membunuh para Perwira Tinggi. Pasukan Tjakrabirawa sebagai pasukan yang ditugaskan untuk mengawal Presiden telah berkhianat tanpa diketahui oleh Soekarno.

Persatuan Indonesia adalah hal yang paling penting bagi Tanah Air tercinta kita ini. Sejarah kelam yang terjadi pada masa itu jadikan simbolis bahwa betapa pentingnya Pancasila sebagai landasan dasar Republik Indonesia. Cinta Tanah Air dan saling mentoleransi akan adanya perbedaan keyakinan, etnis, budaya, ras, dan menjunjung bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.

Itulah pembahasan kami dari 7 Pahlawan Revolusi korban Gerakan 30 September. Jika artikel ini berguna untuk kalian para pecinta sejarah silahkan kalian share dan jika kalian ingin memberikan saran kepada kami silahkan tinggalkan di kolum komentar di bawah ini agar kami terus memberikan informasi yang terbaik dari yang terbaik.

SALAM LITERASI
Arul
Hanya seorang, bukan seekor

6 Motor Sport 1000cc Terbaik Tahun 2020

Previous article

10 Anime Isekai Menarik Yang Wajib Kamu Tonton

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi